Thursday, 18 November 2010

Makalah Ilmu Pendidikan Islam

ANAK DIDIK

DALAM PANDANGAN PENDIDIKAN ISLAM

MAKALAH

Ilmu Pendidikan Islam


Di Susun Oleh:

Sultan Muhammad ZA D01208197

Umi Farihah D01208195

Furoidatul Asriyah D01208193

J. Agung Farizal D31208001

Diyah Riska S D31208002

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2009


BAB I

PENDAHULUAN

A. Abstrakisasi

Anak didik merupakan salah satu dari unsur pendidikan yang harus diperhatikan dan dibimbing oleh pendidik bersama-sama dengan orang tua, karena anak didik merupakan generasi penerus bagi bangsa, agama maupun keturunan, atau persiapan generasi untuk masa mendatang, karena masa kini diciptakan oleh masa lalu. Sehingga mereka sangat memerlukan perhatian yang serius dari segi pendidikan khususnya pendidikan Islam dalam rangka membangun manusia seutuhnya. Masalah anak didik ini merupakan obyek yang terpenting dari paedagogiek. Begitu pentingnya faktor anak didik di dalam pendidikan, sehingga ada aliran pendidikan yang menempatkan anak sebagai pusat segala usaha pendidikan (Child Centered).

Oleh karena itu, agar dalam pemahaman serta dalam bimbingan kepada anak didik tersebut tidak bertentangan dengan kodratnya. Maka pendidik perlu memahami sifat-sifat anak didik maupun segala sesuatu tentang anak didik, baik anak didik di rumah, di sekolah maupun di perkumpulannya.

Namun demikian, dewasa ini banyak para pakar pendidikan dalam mendefinisikan anak didik ini beragam. Sehingga dalam memahami serta memperlakukan anak didik itu keliru, maka akan menyebabkan kerusakan pada diri anak didik itu sendiri. Hal ini akan jauh dari tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Karena, yang diinginkan pendidikan Islam adalah pendidikan yang mampu membentuk manusia yang unggul secara intelektual, kaya dalam amal, serta anggun dalam moral dan kebijakan. Dan tujuan anak didik sebagai individu adalah mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Menurut al-Ghazali dalam karya-karyanya banyak memberikan pemikiran-pemikiran tentang anak didik (penuntut ilmu) bagaimana orang yang sedang menuntut ilmu, bertindak maupun berpikir dalam mencapai keberhasilan mencari ilmu yakni kebahagiaan yang abadi, serta keberadaannya dalam proses belajar mengajar. Dan bagaimana setelah ilmu itu didapatkan. Namun banyak di antara orang-orang pengikutnya salah dalam memahami pemikiran-pemikirannya. Sedangkan tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

Mengetahui apa hakekatnya anak didik.

Kebutuhan apa sajakah yang di butuhkan oleh peserta didik dalam mencapai hakikat sebagai insan kamil.

Dapat diketahui bahwa, hakekat anak didik menurut al-Ghazali merupakan anak yang sedang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing. Mereka memerlukan bimbingan serta pengarahan dari pendidik secara konsisten menuju ke arah titik yang optimal berdasarkan kemampuan fitrahnya. Karena kemampuan anak didik sangat ditentukan dari usia dan perkembangannya.

Menurut al-Ghazali pendidikan bukan bertujuan untuk mendapatkan pengakuan, mengejar status dan pangkat, untuk tampil sebagai orang yang berilmu, tenggelam dalam persaingan, perselisihan dan pertengkaran, tenggelam dalam usaha dan pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan, melainkan kemuliaan budi pekerti, ilmu dan amal yang bermanfaat untuk bekal dalam kehidupan, sehingga tercapai kebahagiaan hidup di dunia dan yang lebih utama lagi adalah kebahagiaan hidup di akhirat.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Anak Didik (Peserta Didik)

Peserta didik merupakan satu komponen dalam sistem pendidikan Islam. Pesera didik merupakan “raw material” (bahan mentah) di dalam proses transformasi yang disebut pendidikan. Berbeda dengan komponen komponen lain dalam sistem pendidikan karena kita menerima “materil” ini sudah setengah jadi, sedangkan komponen-komponen lain dapat dirumuskan dan disusun sesuai dengan keadaan fasilitas dan kebutuhan yang ada.

Peserta didik secara formal adalah orang yang sedang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri dari seorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Pertumbuhan menyangkut fisik, perkembangan menyangkut psikis[1].

Dalam litelatur lain yang dimaksud dengan peserta didik (anak didik) adalah suatu idividu yang menuntut ilmu. Peserta didik cakupannya lebih luas, yang tidak hanya melibatkan anak-anak, tetapi juga pada orang-orang dewasa. Sementara istilah anak didik hanya dikhususkan bagi individu yang berusia kanak-kanak. Penyebutan peserta didik juga mengisyaratkan bahwa lembaga pendidikan tidak hanya di masyarakat, seperti Majlis Ta’lim, Paguyuban, dan sebagainya[2].

Sama halnya dengan teori Barat, peserta didik dalam pendidikan Islam adalah individu sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik, psikologis, sosial, dan religius dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Defenisi tersebut memberi arti bahwa peserta didik merupakan idividu yang belum dewasa, yang karenanya memerlukan orang lainuntuk menjadikan dirinya dewasa[3].

Sedangkan Anak didik dalam tarbiyah Qur’ani sama halnya dengan pengertian anak didik dengan teori Barat, anak didik dalam tarbiyah Qur’ani adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun psikologis. Untuk mencapai tujuan yang pendidikan yang harus diajar, dibina dan dilatih untuk dipersiapkan agar menjadi manusia yang kokoh Iman dan Islamnya serta berakhlak mulia[4].

Jika di pandang dari kacamata filsafat pendidikan Islam yang mengenai Hakikat Peserta Didik dapat dilihat bahwa, secara kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa. Dasar kodrati ini dapat dimengerti ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak yang hidup di dunia ini[5].

Rasulullah SAW. Bersabda,

ما من مولود إلايولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه ..... الخ (رواه مسلم)

“Tidaklah seseorang yang dilahirkan melainkan menurut fitrahnya, maka kedua orang tuanyalah yang me-Yahudikannya atau me-Nasranikannya atau me-Majusikannya.”(HR. Muslim).

Menurut pasal I ayat 4 UU Rl No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkandirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

Syamsul Nizar' mendeskripsikan enam kriteria peserta didik :

1) Peserta didik bukanlah miniatur orang dewasa tetapi memiliki dunianya sendiri.

2) Peserta didik memiliki periodisasi perkembangan dan pertumbuhan.

3) Peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individu baik disebabkan oleh faktor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada[6].

Dalam istilah tasawuf, peserta didik sering kali disebut dengan "murid" atau thalib, Secara etimologi, murid berarti "orang yang menghendak”. Sedaugkan menurut arti terminologi, murid adalah "pencari hakikat di bawah bimbingan dan arahan seorang pem-bimbing spiritual (mursyrif. Sedangkan tholib secara bahasa berarti "orang yang mencari", sedang menurut istilah tasawuf adalah "penempuh jalan spiritual, di mana ia berusaha keras menempuh dirinya untuk mencapai derajat sufi", Penyebutan murid ini juga dipakai untuk menyebut pcserta didik pada sekolah tingkat dasar dan menengah, sementara untuk perguruan tinggi lazimnya disebut dengan mahasiswa (thalib)[7].

Istilah murid atau thalib ini sesungguhnya mcmiliki kedalaman makna dari pada penyebutan siswa. Artinya, dalam proses pendidikan itu terdapat individu yang secara sungguh-sungguh menghendaki dan mencari ilmu pengetahuan. Hal ini menunjukkan bahwa istilah murid dan thalib menghendaki adanya keaktifan pada pcserta didik dalam proses bclajar mengajar bukan pada pendidik. Namun, dalam pepatah dinyatakan: "tiada tepuk sebelah tangan". Pepatan ini mengisyatatkan adanya active learning bagi peserta didik dan active teaching bagi pendidik, sehinggakedua belah pihak menjadi "gayung bersambung" dalam proses pendidikan agar tercapai hasil secara maksimal[8].

B. Kebutuhan Peserta Didik

Banyak kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi oleh pendidik, diantaranya:

1) Kebutuhan Fisik Kebutuhan fisik disini dapat diartikan seperti hajatun ‘Udhowiyah. Pada kebutuhan ini seorang manusia atau peserta didik harus melengkapi atau harus selalu dipenuhi. Karena, pertumbuhan fisik pada peserta didik sangat cepat, apalagi ketika mengalami masa-masa pubertas. Contoh dari kebutuhan fisik ini seperti makan, minum, istirahat dst. Disamping pendidik memperhatikan pertumbuhan fisik, pendidik jega harus dapat memberikan informasi yang memadai tentang pertumbuhan melalui berbagai kegiatan bimbingan seperti bimbingan pribadi atau dalam bimbingan kelompok. Infromasi ini sangat diperlukan terutama bagi peserta didik yang berada pada masa pubertas agar ia tidak kebingunan menghadapinya.

2) Kebutuhan Sosial Kebutuhan Sosial yaitu kebutuhan yang berhubungan langsung denga" masyarakat agar pesena didik dapat berinieraksi dengan masyaraka lingkungannya, seperti diterima oleh ternan-temannya secara wajar. Beg1' juga supaya dapat diterima oleh orang lebih tinggi dari dia seperti orang tuanya, guru-gurunya dan pemimpin-pemimpinnya. Kebuluhan ini perlu dipenuhi agar peserta didik dapat mcmperole posisi dan berprestasi dalam masyarakat.

3) Kebutuhan untuk mendapatkan status Peserta didik terutama pada usia remaja membutuhkan suatu yang menjadikan dirinya berguna bagi masyarakat. Kebanggaan terhadap diri sendiri, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun di dalam masyarakat. Pescrta didik juga butuh kebanggaan untuk diterima dan dikenal sebagai individu yang berani dalam kelompok tcman sebayanya, karena pencrimaan dan dibanggakan kelompok sangat penting bagi pescrta didik dalam mencari identitas diri dan kemandirian.

4) Kebuthan Mandiri Peserta didik pada usia remaja ingin lepas dari batasan-batasan atau aturan orang tuanya dan mencoba untuk mengarahkan dan mendisiplinkan dirinya sendiri. Ia ingin bebas dari perlakuan orang tuanya yang terkadang terlalu berlebihan dan terkesan sering mencampuri urusan mereka yang menurut mereka bisa diatasi sendiri. Walaupun satu waktu mereka masih menginginkan bantuan orang tua. Banyak orang tua yang sangat memperhatikan dan membatasi sikap, prilaku dan lindakan-lindakan remaja. Hal ini membuat remaja mcrasa tidak dipercayai dan dihargai oleh orang tua mereka, sehingga muncul , sikap menolak dan terkadang memberonlak.

5) Kebutuhan untuk berprestasi Kebutuhan untuk berprestasi erat kaitannya dengan kebutuhan men-dapat stalus dan mandiri. Artinya dengan lerpenuhinya kebutuhan untuk memiliki status atau penghargaan dan kebutuhan untuk hidup mandiri dapat membuat peserta didik giat untuk mengejar prestasi. Dengan demikian kemampuan untuk berprestasi dengan perlakuan yang mereka terima baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun di masyarakat.

6) Kebutuhan ingin disayangi dan dicintai Rasa ingin disayangi dan dicintai merupakan kebutuhan yang esensial, karena dengan terpenuhi kebutuhan ini akan mempengaruhi sikap mental Peserta didik. Banyak anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua, guru dan lain-lainnya mengalami prestasi dalam hidup. Dalam agama cinta kasih yang paling tinggi diharapkan dari Allah SWT. Itu sebabnya setiap orang berusaha mencari kasih sayang dengan mendekatkan diri kepadanya.

7) Kebutuhan untuk curhat Keutuhan untuk curhat terutama remaja dimaksudkan suatu kebutuhan unluk dipahami ide-ide dan permasalahan yang dihadapinya. Peserta didik mengharapkan agar apa yang dialami, dirasakan terutama dalam rnasa pubertas. Sebaliknya jika mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk mengkomunikasikan permasalahan-permasalahannya tersebut, apalagj dilecehkan, ditolak, atau dimusuhi, dapat membuat mereka kecewa, marah bahkan mereka merasa diri tidak aman, sehingga muncul tingkah laku yang bersifat negatif dan prilaku menyimpang.

8) Kebutuhan untuk memiliki filsafah hidup (agama) Peserta didik pada usia remaja sudah bisa menilai tentang masalah kebenaran yang ideal. Mereka juga bisa mengenal apa yang dimaksud dengan tujuan hidup dan bagaimana kebahagiaan itu diperoleh. Kebutuhan ini juga bisa disebut dengan Ghorizatud Tadayyun (naluri beragama).


BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Anak didik merupakan salah satu dari unsur pendidikan yang harus diperhatikan dan dibimbing oleh pendidik bersama-sama dengan orang tua, karena anak didik merupakan generasi penerus bagi bangsa, agama maupun keturunan, atau persiapan generasi untuk masa mendatang, karena masa kini diciptakan oleh masa lalu. Oleh karena itu, agar dalam pemahaman serta dalam bimbingan kepada anak didik tersebut tidak bertentangan dengan kodratnya. Maka pendidik perlu memahami sifat-sifat anak didik maupun segala sesuatu tentang anak didik, baik anak didik di rumah, di sekolah maupun di perkumpulannya.

Peserta didik secara formal adalah orang yang sedang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri dari seorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Pertumbuhan menyangkut fisik, perkembangan menyangkut psikis[9]. Dalam litelatur lain yang dimaksud dengan peserta didik (anak didik) adalah suatu idividu yang menuntut ilmu. Dalam teori barat peserta didik dalam pendidikan Islam adalah individu sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik, psikologis, sosial, dan religius dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Sedangkan Anak didik dalam tarbiyah Qur’ani sama halnya dengan pengertian anak didik dengan teori Barat, anak didik dalam tarbiyah Qur’ani adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun psikologis.

Banyak kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi oleh pendidik, diantaranya:

1) Kebutuhan Fisik.

2) Kebutuhan Sosial.

3) Kebutuhan untuk mendapatkan status.

4) Kebuthan Mandiri.

5) Kebutuhan untuk berprestasi.

6) Kebutuhan ingin disayangi dan dicintai.

7) Kebutuhan untuk curhat.

8) Kebutuhan untuk memiliki filsafah hidup (agama)/Ghorizatud Tadayyun (naluri beragama).

B. PENUTUP

Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua….Amiiin,


DAFTAR PUSTAKA

  • H. Samsul Ulum, MA; Tarbiyah Qur’aniyah UIN press, Malang
  • Drs. H. Hamdani Ihsan; Filsafat Pendidikan Islam, Pustaka Setia, Bandung
  • Dr. Abdul Mujib, M.Ag; Ilmu Pendidikan Islam, Kencana, Jakarta
  • Prof. Dr. H. Ramanyulis, Kalam Mulia, Jakarta


[1] ILMU PENDIDIKAN ISLAM, Ramanyuli H, Dr,Prof; kalam mulia press hal 77

[2] ILMU PENDIDIKAN ISLAM,Dr.Abdul Mujib,M.Ag ;kencana press hal 103

[3] Ibid, hal 103

[4] Abdullah Nashih Ulwan;diterj. Raharjo, 1999: 59

[5] Filsafat Pendidikan Islam; Drs. H. Hamdani Ihsan; Pustaka Setia hal 113

[6] ILMU PENDIDIKAN ISLAM, Ramanyuli H, Dr,Prof; kalam mulia press hal 77

[7] ILMU PENDIDIKAN ISLAM,Dr.Abdul Mujib,M.Ag ;kencana press hal 104

[8] Ibid,

[9] ILMU PENDIDIKAN ISLAM, Ramanyuli H, Dr,Prof; kalam mulia press hal 77

No comments:

Post a Comment

Monggo Kawan - Kawan yuk Berkomentar ^_^

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review